Kamis, 16 Juni 2016

SKENARIO PEMERINTAHAN ANTI ISLAM, MULAI ‘SKANDAL WARTEG’ HINGGA PENGHAPUSAN PERDA SYARIAH



Baru-baru ini media ramai-ramai memberitakan tentang Ibu Saeni, seorang pedagang warteg berusia 61 tahun. Beberapa waktu lalu, warteg ibu paruh baya ini dirazia oleh Satpol PP daerah Serang, Banten, karena berjualan di siang hari. Makanannya diambil sehingga tak menyisakan satu makanan pun di wartegnya.

Media memblow-up berita ini besar-besaran, hingga muncul isu-isu permasalahan seputar toleransi “Hormatilah yang tidak berpuasa”, kesalahan Ibu Saeni, dan kekerasan Satpol PP.
Diberitakan pula Ibu Saeni jatuh sakit ketika wartegnya telah habis dirazia. Berita ini yang membuat para pengguna media internet atau netizen geram dan merasa iba karenanya. Akhirnya muncullah orang-orang yang memberikan donasi untuk Ibu Saeni, sehingga terkumpul lebih dari 100 juta rupiah. 

Bak pahlawan yang ingin turun ke medan perang, Presiden Jokowi pun ikut membantu Ibu Saeni dengan menyumbangkan uangnya sebesar 10 juta rupiah, lewat orang suruhannya.

Tapi, ternyata berdasarkan informasi dari Forum Ulama Banten yang turut berusaha melakukan peninjauan langsung guna mencari kebenaran data dan fakta di lapangan tentang ‘skandal warteg’ tersebut dan informasi yang dihimpun oleh Radar Banten dari petugas Satpol PP Kota Serang, Saeni merupakan pedagang Warung Tegal (warteg) yang tidak masuk kategori miskin. Bahkan di Kota Serang, Saeni dinilai memiliki tiga cabang warteg di daerah Cigabus, Kaliwadas, dan Tanggul. Mengenai penyitaan makanan milik Saeni, tidak semua ditahan dan tidak untuk dimusnahkan. Namun Saeni diminta untuk bisa mengambilnya lagi setelah pukul 16:00 WIB agar bisa dijual kembali.

Yang memblow up berita tersebut menjadi ‘wah’ adalah kompas dan media-media sekuler yang ‘tersesat’ yang tidak rukun dengan Islam, dan penyumbang utama Ibu saeni merupakan relawan Jokowi dan Kompas.

Bagaimana mungkin orang kaya mendapatkan banyak donasi, dan banyak yang merasa empati. Inilah permainan media. Usut punya usut, ternyata ini adalah sebuah skenario untuk menghapuskan beberapa PERDA (Peraturan Daerah) yang berbau Syariah atau Keislaman.

Baru-baru ini, Presiden RI, Jokowi, mengahpuskan 3.143 PERDA berbau Syariah. Seperti PERDA yang mewajibkan pemakaian kerudung bagi siswi sekolah, PERDA yang mewajibkan daerah setempat untuk membaca Al Quran, kewajiban memakai Jilbab di Cianjur, Pengaturan membuka rumah makan, rombong dan sejenisnya pada bulan Ramadhan dan lainnya.

Ya, benar-benar bukan kebetulan, ini adalah sandiwara belaka ketka Ibu Saeni diduga membuka warung pada siang hari, lalu dirazia Satpol PP, Ibu Saeni jatuh sakit sehingga menimbulkan Netizen dan Presiden memberikan donasi, sampai akhirnya terjadi penghapusan 3.143 PERDA di beberapa daerah.

Bukan ingin berburuk sangka ataupun berpikiran lebay, tapi sayang alibi razia warung makan yang dikemas dengan make-up intoleran, jahat, tidak berperikemanusiaan, akhirnya nyata terbongkar, semua telah bermuara pada kepentingan penguasa, yakni penghapusan ribuan PERDA. Dan beberapa PERDA yang dihapuskan itu berbau agama, khususnya syariah Islam telah disikat. 

Yang jadi pertanyaan adalah mengapa pemerintah menghapuskan beberapa PERDA syariah yang justru mendiskreditkan kita sebagai umat muslim.  Karena jelas, tidak ada keridhoan terhadap Islam dalam sistem demokrasi yang ber-asas-kan sekulerisme.

Sadarlah kawan, bahwa saat ini umat muslim sedang dijauhkan dari identitas ke-musliman-nya, bahkan sedang ‘diceraikan’ dari sistem aturan Islam, yakni Syariah dan Khilafah, dan di negeri bermoyoritas muslim ini, bahwa muslim juga sering disudutkan menjadi kaum yang bersalah yang menyebabkan perpecahan di negeri ini. Saatnya kita, untuk  bangkit dan berkata TIDAK!! pada Demokrasi, Sekulerisme, dan isme-isme buatan musuh-musuh Islam, termasuk ‘penguasa boneka’. Ingatlah sabda Rasulullah SAW, yaitu : “JIHAD yang paling agung adalah mengatakan kebenaran di depan Penguasa yang Dzolim” (Al Hadist)

Rasulullah dan para pendahulu kita, generasi kaum muslimin terdahulu, senantiasa menggiatkan amal shalih, jihad dan perjuangan di bulan Ramadhan. Ramadhan akhirnya menjadi bulan perjuangan dan kemenangan. Momentum bulan Ramadhan ini marilah kita wujudkan perjuangan kita sebagai muslim sejati, dengan berjuang terus menerus dalam penegakan aturan Islam secara kaffah yang akan membawa rahmat bagi seluruh alam, untuk manusia pada umumnya, juga ciptaan Allah di muka bumi. 

“Barang siapa mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala sebanyak pahala yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.” (Shahih Muslim 2674-16)

[Septian.W.R]

Bagikan

Jangan lewatkan

SKENARIO PEMERINTAHAN ANTI ISLAM, MULAI ‘SKANDAL WARTEG’ HINGGA PENGHAPUSAN PERDA SYARIAH
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.