Baru-baru ini media ramai-ramai
memberitakan tentang Ibu Saeni, seorang pedagang warteg berusia 61 tahun. Beberapa
waktu lalu, warteg ibu paruh baya ini dirazia oleh Satpol PP daerah Serang,
Banten, karena berjualan di siang hari. Makanannya diambil sehingga tak
menyisakan satu makanan pun di wartegnya.
Media memblow-up berita ini
besar-besaran, hingga muncul isu-isu permasalahan seputar toleransi “Hormatilah
yang tidak berpuasa”, kesalahan Ibu Saeni, dan kekerasan Satpol PP.
Diberitakan pula Ibu Saeni jatuh
sakit ketika wartegnya telah habis dirazia. Berita ini yang membuat para
pengguna media internet atau netizen geram dan merasa iba karenanya. Akhirnya
muncullah orang-orang yang memberikan donasi untuk Ibu Saeni, sehingga
terkumpul lebih dari 100 juta rupiah.
Bak pahlawan yang ingin turun ke
medan perang, Presiden Jokowi pun ikut membantu Ibu Saeni dengan menyumbangkan
uangnya sebesar 10 juta rupiah, lewat orang suruhannya.
Tapi, ternyata berdasarkan
informasi dari Forum Ulama Banten yang turut berusaha melakukan peninjauan
langsung guna mencari kebenaran data dan fakta di lapangan tentang ‘skandal
warteg’ tersebut dan informasi yang dihimpun oleh Radar Banten dari petugas Satpol PP Kota Serang, Saeni merupakan
pedagang Warung Tegal (warteg) yang tidak masuk kategori miskin. Bahkan di Kota
Serang, Saeni dinilai memiliki tiga cabang warteg di daerah Cigabus, Kaliwadas,
dan Tanggul. Mengenai penyitaan makanan milik Saeni, tidak semua ditahan dan
tidak untuk dimusnahkan. Namun Saeni diminta untuk bisa mengambilnya lagi
setelah pukul 16:00 WIB agar bisa dijual kembali.
Yang memblow up berita tersebut
menjadi ‘wah’ adalah kompas dan media-media sekuler yang ‘tersesat’ yang tidak
rukun dengan Islam, dan penyumbang utama Ibu saeni merupakan relawan Jokowi dan
Kompas.
Bagaimana mungkin orang kaya
mendapatkan banyak donasi, dan banyak yang merasa empati. Inilah permainan
media. Usut punya usut, ternyata ini adalah sebuah skenario untuk menghapuskan
beberapa PERDA (Peraturan Daerah) yang berbau Syariah atau Keislaman.
Baru-baru ini, Presiden RI,
Jokowi, mengahpuskan 3.143 PERDA berbau Syariah. Seperti PERDA yang mewajibkan
pemakaian kerudung bagi siswi sekolah, PERDA yang mewajibkan daerah setempat
untuk membaca Al Quran, kewajiban memakai Jilbab di Cianjur, Pengaturan membuka
rumah makan, rombong dan sejenisnya pada bulan Ramadhan dan lainnya.
Ya, benar-benar bukan kebetulan,
ini adalah sandiwara belaka ketka Ibu Saeni diduga membuka warung pada siang
hari, lalu dirazia Satpol PP, Ibu Saeni jatuh sakit sehingga menimbulkan
Netizen dan Presiden memberikan donasi, sampai akhirnya terjadi penghapusan
3.143 PERDA di beberapa daerah.
Bukan ingin berburuk sangka ataupun
berpikiran lebay, tapi sayang alibi razia warung makan yang dikemas
dengan make-up intoleran, jahat,
tidak berperikemanusiaan, akhirnya nyata terbongkar, semua telah bermuara pada
kepentingan penguasa, yakni penghapusan ribuan PERDA. Dan beberapa PERDA yang
dihapuskan itu berbau agama, khususnya syariah Islam telah disikat.
Yang jadi
pertanyaan adalah mengapa pemerintah menghapuskan beberapa PERDA syariah yang
justru mendiskreditkan kita sebagai umat muslim. Karena jelas, tidak ada keridhoan terhadap Islam
dalam sistem demokrasi yang ber-asas-kan sekulerisme.
Sadarlah kawan, bahwa saat ini
umat muslim sedang dijauhkan dari identitas ke-musliman-nya, bahkan sedang
‘diceraikan’ dari sistem aturan Islam, yakni Syariah dan Khilafah, dan di
negeri bermoyoritas muslim ini, bahwa muslim juga sering disudutkan menjadi
kaum yang bersalah yang menyebabkan perpecahan di negeri ini. Saatnya kita,
untuk bangkit dan berkata TIDAK!! pada
Demokrasi, Sekulerisme, dan isme-isme
buatan musuh-musuh Islam, termasuk ‘penguasa boneka’. Ingatlah sabda Rasulullah
SAW, yaitu : “JIHAD yang paling agung adalah mengatakan kebenaran di depan
Penguasa yang Dzolim” (Al Hadist)
Rasulullah dan para pendahulu
kita, generasi kaum muslimin terdahulu, senantiasa menggiatkan amal shalih,
jihad dan perjuangan di bulan Ramadhan. Ramadhan akhirnya menjadi bulan
perjuangan dan kemenangan. Momentum bulan Ramadhan ini marilah kita wujudkan
perjuangan kita sebagai muslim sejati, dengan berjuang terus menerus dalam
penegakan aturan Islam secara kaffah yang akan membawa rahmat bagi seluruh
alam, untuk manusia pada umumnya, juga ciptaan Allah di muka bumi.
“Barang siapa mengajak kepada kebaikan, maka ia
akan mendapat pahala sebanyak pahala yang diperoleh orang-orang yang
mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.” (Shahih Muslim
2674-16)
|
Bagikan
SKENARIO PEMERINTAHAN ANTI ISLAM, MULAI ‘SKANDAL WARTEG’ HINGGA PENGHAPUSAN PERDA SYARIAH
4/
5
Oleh
Wahyu
